Renungan untuk Hati Yang Sedang Menanti Panggilan Haji
Engkau yang menanti.
Yang sudah mendaftar bertahun-tahun lalu dan masih bertengger di daftar tunggu. Yang sedang menabung sedikit demi sedikit dan belum genap. Yang ingin pergi tetapi terhalang udzur — orang tua yang sakit, anak yang masih kecil, pekerjaan yang tidak bisa ditinggal, biaya yang belum cukup. Yang setiap musim haji menatap layar dengan mata yang basah menyaksikan jutaan jamaah mengitari Baitullah, lalu diam-diam berbisik di sudut hati: kapan giliranku, ya Allah?
Tulisan ini untukmu.
Ketahuilah, panggilan haji tidak dimulai dari paspor dan visa. Ia jauh lebih tua dari itu — jauh lebih tua dari usiamu, dari usia orang tuamu, dari usia kakek-nenekmu. Allah berfirman tentang Ibrahim ‘alaihissalam: «Wa adzdzin fin-nāsi bil-ḥajji ya’tūka rijālan wa ‘alā kulli ḍāmirin ya’tīna min kulli fajjin ‘amīq» — “Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan menunggang unta yang kurus, yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS. Al-Hajj: 27).
Para ulama tafsir menuturkan, seruan Ibrahim itu diangkat oleh Allah ke langit, lalu disampaikan-Nya hingga sampai kepada setiap ruh manusia yang akan tercipta sampai hari kiamat. Maka, jamaah haji yang berjalan menuju Ka’bah hari ini, sesungguhnya sedang menjawab seruan yang pernah mereka dengar ribuan tahun lalu di alam ruh. Mereka yang berkata labbaik di sana, dipanggil ke sini.
Maka renungkanlah ini: jika hatimu kini gemetar setiap kali talbiyah berkumandang, jika air matamu jatuh setiap kali Ka’bah muncul di layar televisi, jika rindumu kepada Tanah Suci tidak pernah padam meskipun jarak masih jauh — itu sebuah pertanda. Pertanda bahwa engkau pernah menjawab labbaik di alam ruh. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan jawaban itu. Hanya saja waktunya — itu Dia yang menentukan, bukan engkau.
Sementara engkau menanti, ketahuilah bahwa Allah mencatat niatmu. Rasulullah ﷺ bersabda: «Innamal a’mālu binniyyāt» — “Sesungguhnya setiap amal itu tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dan dalam sabda lain yang lebih menggetarkan, beliau ﷺ berbicara tentang sahabat-sahabat yang tertinggal di Madinah saat perang Tabuk karena udzur: «Inna bil-Madīnati aqwāman mā sirtum masīran wa lā qatha’tum wādiyan illā kānū ma’akum, ḥabasahumul-‘udzr» — “Sesungguhnya di Madinah ada orang-orang yang tidak kalian tempuh suatu perjalanan dan tidak kalian seberangi suatu lembah, melainkan mereka bersama kalian. Mereka tertahan oleh udzur.” (HR. Bukhari, dari Anas radhiyallahu ‘anhu).
Saudaraku, dengarkan sabda ini dengan hati yang lapang. Para sahabat yang tertahan di Madinah, yang tidak ikut berjihad karena halangan yang sah — mereka tetap diberi pahala seolah ikut serta. Tubuh mereka di Madinah, tetapi ruh mereka bersama pasukan.
Mereka melangkah ketika saudara mereka melangkah. Mereka menyeberangi lembah ketika saudara mereka menyeberang. Maka demikian pula engkau yang menanti panggilan haji. Jika hatimu sungguh-sungguh merindu, jika niatmu sungguh-sungguh ikhlas, jika air matamu sungguh-sungguh jatuh karena Tuhan dan Rumah-Nya, maka ketika jamaah wuquf di Arafah pada hari yang agung itu, engkau pun ikut wuquf di hatimu. Ketika mereka mengangkat tangan, engkau pun mengangkat tangan. Ketika mereka menangis, engkau pun menangis. Tubuhmu di rumah, tetapi ruhmu di Arafah.
Karena Arafah, pada hakikatnya, adalah arena perenungan.
Merenung tentang Tuhan dan panggilan-Nya. Merenung tentang ke mana arah akhir dari panggilan itu. Merenung tentang siapa diri yang dipanggil — apakah ia hamba yang sudah siap, ataukah hamba yang masih perlu dididik oleh waktu, dimatangkan oleh penantian, dipersiapkan oleh ujian-ujian kecil sehari-hari.
Merenung adalah denyut kehidupan ruhani. Tanpa renungan, kehidupan ruhani terhenti. Tanpa renungan, makna kehidupan menjadi kabur. Tanpa renungan, hari-hari di pentas bumi mengalir tanpa arah — sibuk tetapi sia-sia, ramai tetapi sepi, panjang tetapi hampa.
Dan renungan itu, sungguh, tidak harus menunggu padang Arafah. Ia bisa dimulai di tempat yang paling akrab denganmu setiap hari: di atas sajadahmu. Sajadah subuh ketika fajar baru pecah dan rumah masih tertidur. Sajadah dhuha ketika matahari mulai meninggi dan dunia belum sempat menyibukkanmu. Sajadah tahajud ketika langit gelap dan engkau bersendirian dengan Tuhanmu.
Di sanalah, di atas selembar kain itu, engkau dapat berwuquf setiap hari — dengan kepala tertunduk, dengan hati yang lapang, dengan air mata yang tidak perlu disaksikan siapa pun selain Allah.
Sajadah itulah Arafah-mu yang pertama. Padang luas yang sempit pada zhahirnya, tetapi luas tak terhingga pada hakikatnya — sebab di atasnya seorang hamba dapat berdiri di hadapan Rabb-nya tanpa ada penghalang.
Para guru ruhani sering menceritakan sebuah hikayat tentang Abdullah bin Mubarak rahimahullah — bukan untuk dijadikan riwayat sejarah yang tegas, tetapi untuk dijadikan cermin bagi siapa pun yang sedang menanti panggilan.
Dikisahkan, suatu tahun beliau berangkat menuju Tanah Suci dengan bekal yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun. Di tengah perjalanan, beliau melewati sebuah desa yang miskin. Di sana, beliau melihat seorang ibu dan anak-anaknya sedang memasak bangkai burung — karena tidak ada apa-apa lagi yang halal mereka temukan untuk dimakan, dan mereka telah berhari-hari kelaparan. Hati Ibn Mubarak bergetar. Beliau mengeluarkan seluruh bekal hajinya, menyerahkannya kepada keluarga itu, lalu pulang ke kampung halamannya tanpa menyelesaikan perjalanan.
Pada musim haji tahun itu, orang-orang yang baru pulang dari Tanah Suci menemui Ibn Mubarak dan berkata dengan heran: “Wahai Imam, kami melihatmu di Arafah, di Mina, di sekeliling Ka’bah. Engkau bersama kami dalam setiap manasik!” Ibn Mubarak terdiam, lalu berkata pelan: “Aku tidak pergi ke Mekkah tahun ini.”
Malam itu, dalam mimpinya, beliau mendengar suara dari ufuk yang sunyi: Wahai Abdullah, hajimu telah Kuterima, dan Aku perintahkan seorang malaikat untuk berhaji di tempatmu — karena engkau telah memilih memberi makan keluarga yang lapar daripada melihat Rumah-Ku.
Dengarkan hikayat ini dengan hati yang tenang. Ia tidak diceritakan untuk berkata bahwa siapa pun boleh menggantikan haji dengan amal yang lain — karena haji adalah rukun Islam yang wajib bagi yang mampu, dan tidak ada amalan yang menggantikan kewajibannya. Tetapi ia diceritakan untuk satu pesan saja: Allah tidak hanya memandang tubuh yang berputar di Tanah Suci.
Dia memandang hati. Dia memandang niat. Dia memandang air mata yang jatuh di atas sajadah ketika tidak ada manusia yang melihat. Dia memandang tangan yang menahan diri dari keinginan demi membantu sesama. Dan barangsiapa hatinya benar di hadapan Allah, Allah akan menyampaikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak ia duga.
Maka, wahai engkau yang menanti — gunakanlah masa penantian ini sebaik-baiknya. Jangan biarkan ia menjadi tahun-tahun yang kosong, terbuang dalam keluh dan iri kepada saudara-saudara yang sudah berangkat. Jadikan ia tahun-tahun persiapan ruhani.
Bersihkan hartamu dari yang syubhat, agar ketika ia kelak menjadi biaya haji, ia tidak menjadi labbaik yang tertolak. Bersihkan hatimu dari dengki dan dendam, agar ketika engkau kelak berdiri di Arafah, engkau berdiri sebagai hamba yang ringan, bukan sebagai hamba yang membawa beban dari kampung halaman. Pelajarilah manasik dari sekarang — bukan agar engkau hafal prosedurnya, tetapi agar setiap manasik telah engkau resapi maknanya jauh sebelum kakimu menginjak tanah haram.
Dan ketahuilah ini: pada hari Arafah, sebelum tubuhmu sampai ke sana, engkau pun mempunyai hak atas hari itu. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa hari Arafah menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang (HR. Muslim).
Maka di hari ketika jutaan saudara-saudaramu wuquf di padang luas itu, engkau di rumah dapat berpuasa, banyak berdoa, mengangkat tangan dengan air mata, dan ikut serta merasakan getaran langit. Pintu-pintu langit yang dibuka di hari Arafah tidak hanya dibuka untuk yang berdiri di sana. Ia dibuka untuk setiap hati yang sungguh-sungguh menengadah, di mana pun ia berada — termasuk di atas sajadah di sudut rumahmu yang sederhana.
Dan satu doa yang tidak boleh engkau tinggalkan setiap hari, terutama setelah salat fardhu di atas sajadahmu: Allāhumma innī as’aluka ḥajjan mabrūran, wa sa’yan masykūran, wa dzanban maghfūran, wa ‘amalan ṣāliḥan maqbūlan, wa tijāratan lan tabūr — “Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, amal saleh yang diterima, dan perdagangan yang tidak akan rugi.”
Mintalah kepada Allah dengan keyakinan bahwa Dia mendengar. Sebab Yang menanam rindu Ka’bah di hatimu, adalah Dia yang sama yang mempunyai kunci pintu Ka’bah. Tidak mungkin Dia menanam rindu lalu membiarkannya layu. Hanya, kadang Dia menunda — agar ketika rindumu kelak sampai ke Arafah, ia telah cukup matang untuk menjadi ma’rifah; agar engkau sampai di sana bukan sebagai pelancong ruhani yang sekadar memenuhi tradisi, melainkan sebagai hamba yang telah dipersiapkan dengan saksama oleh tangan-Nya sendiri.
Maka selama menanti, jadikanlah sajadahmu sebagai Arafah-mu yang pertama. Berhentilah sejenak di atasnya setiap hari, di tengah segala kesibukan dunia. Tundukkan kepala. Hadapkan jiwa.
Tanyakan kepada diri sendiri pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan yang ditanyakan jutaan jamaah di Arafah: untuk siapa aku hidup, dan kepada siapa aku akan pulang?
Sebab pada akhirnya, entah engkau sampai ke Arafah secara fisik tahun ini, atau tahun depan, atau bertahun-tahun lagi, atau bahkan — semoga Allah menjauhkan — tidak sempat sampai di sisa umurmu, ingatlah satu hakikat ini: barangsiapa telah mengenal dirinya, ia telah mengenal Tuhannya. Dan pengenalan diri itu tidak harus dimulai di padang Arafah. Ia bisa dimulai sekarang, di sini, di atas sajadahmu, di air matamu yang jatuh malam ini.
Sebab Arafah yang sejati, sesungguhnya, ada di dalam hati yang merindu — dan hati itu, paling jujur menemukan dirinya di atas sajadah, ketika tidak ada manusia yang melihat selain Yang Memanggil.
Dan engkau, wahai yang menanti — hatimu sudah lama berada di sana, jauh sebelum kakimu menyusul.
“Wa man yu’ta al-ḥikmata faqad ūtiya khairan katsīrā.”
Dan barangsiapa diberi hikmah, sungguh ia telah diberi kebaikan yang banyak. (QS. Al-Baqarah: 269)
Ulujami, 9 Dzulhijjah 1447H
