Mereka yang Mendahului dengan Hati yang Mengingat Allah
Ada satu kelompok manusia yang oleh Rasulullah ﷺ disebut sebagai pemenang. Bukan karena mereka paling kaya, paling cepat, atau paling banyak pengikutnya. Tetapi karena hati mereka tidak pernah berhenti mengingat Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
« سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ »
قَالُوا: وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: « الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ »
(رواه مسلم)
“Telah mendahului al-mufarridun.”
Para sahabat bertanya, “Siapakah al-mufarridun itu, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab, “Laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah.”
Kata سَبَقَ (sabaqa) berarti mendahului — lebih dahulu sampai. Tetapi yang dimaksud Rasulullah ﷺ bukan mendahului dalam urusan duniawi. Bukan tentang siapa yang lebih dulu kaya, lebih dulu naik jabatan, atau lebih dulu terkenal.
Mereka mendahului dalam hal yang jauh lebih hakiki: ketenangan hati, kedekatan kepada Allah, keberkahan hidup, dan keselamatan di akhirat.
Boleh jadi di mata dunia mereka tampak biasa saja. Tidak menonjol. Tidak viral. Tidak ada di panggung pemberitaan. Namun di sisi Allah, merekalah pelari terdepan di lintasan yang sesungguhnya.
Karena pada akhirnya, kemenangan sejati bukan diukur dari seberapa tinggi seseorang naik, melainkan dari seberapa dekat ia kepada Allah ketika ia turun.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
﴿ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ ﴾
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Ayat ini sederhana redaksinya, tetapi sangat dalam maknanya. Allah seakan menutup pencarian panjang manusia hanya dengan satu kalimat: ketenangan itu satu sumbernya — mengingat Allah.
Banyak orang menyangka ketenangan akan datang setelah rekening penuh, setelah rumah dibeli, setelah pasangan ditemukan, setelah anak-anak berhasil. Lalu setelah semua itu tercapai, mereka justru bertanya pada diri sendiri, “Mengapa hatiku masih kosong?”
Karena hati manusia tidak dirancang untuk dikenyangkan oleh dunia. Hati hanya tenang ketika ia kembali kepada Penciptanya. Tubuh bisa kenyang oleh makanan. Mata bisa puas oleh pemandangan. Telinga bisa terhibur oleh suara. Tetapi hati — bagian paling dalam dari diri manusia — hanya tenang dengan satu hal: mengingat Allah.
Sayangnya, banyak orang hanya mengingat Allah ketika hidup sedang berantakan. Saat sakit menghampiri, saat usaha bangkrut, saat kehilangan datang, saat ekonomi mencekik, saat hidup terasa gelap. Setelah semua reda, setelah hidup kembali nyaman, Allah pun dilupakan lagi.
Padahal dzikrullah bukanlah “mode darurat”.
Mari kita renungkan dengan analogi sederhana. Setiap kita pasti pernah memiliki teman yang hanya muncul saat butuh bantuan. Datang dengan kalimat, “Bro, gue lagi butuh nih…” Setelah dibantu, ia menghilang. Beberapa bulan kemudian muncul lagi, hanya untuk meminta hal baru. Lama-kelamaan hubungan itu terasa tidak tulus.
Maukah kita memiliki hubungan seperti itu dengan Allah?
Allah Yang Maha Pemurah memang tidak pernah menolak hamba yang datang — bahkan dalam keadaan paling tidak layak sekalipun. Tetapi sungguh memalukan bagi seorang hamba jika ia hanya hadir di hadapan Tuhannya ketika dunianya runtuh.
Hamba yang benar-benar dekat dengan Allah mengingat-Nya dalam segala keadaan. Saat senang ia bersyukur. Saat sedih ia bersabar. Saat lapang ia berdzikir. Saat sempit ia berdoa. Saat berhasil ia merendahkan diri. Saat gagal ia tidak putus asa.
Allah memuji golongan ini dengan ayat yang sangat indah:
﴿ الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ ﴾
“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring.”
(QS. Āli ‘Imrān: 191)
Berdiri, duduk, dan berbaring — itulah hampir seluruh posisi manusia dalam kehidupannya. Artinya, dzikir bukanlah pekerjaan sambilan setelah shalat. Dzikir adalah cara hidup. Ia adalah seni menghadirkan Allah dalam setiap napas, setiap langkah, setiap keputusan.
Kita hidup di zaman yang belum pernah disaksikan generasi mana pun sebelumnya. Teknologi melaju luar biasa cepat. Informasi mengalir tanpa henti. Hiburan tersedia dalam genggaman. Secara material, manusia hari ini jauh lebih sejahtera dibanding kakek-nenek mereka.
Namun di tengah semua kemajuan itu, terjadi sebuah paradoks yang mengerikan. Manusia modern justru semakin kesepian, semakin cemas, semakin depresi, dan semakin kehilangan arah hidup.
Data dunia menunjukkan kenyataan yang mengejutkan. Beberapa negara dengan kemajuan ekonomi dan teknologi tertinggi justru menempati peringkat atas dalam angka bunuh diri.
Korea Selatan — negara yang melahirkan Samsung, LG, Hyundai, dan industri K-Pop yang menggemparkan dunia — adalah negara dengan angka bunuh diri tertinggi di antara negara-negara maju OECD. Sekitar 24 hingga 28 kematian per 100.000 penduduk dalam beberapa tahun terakhir. Setiap tahun, hampir 13.000 warga Korea Selatan mengakhiri hidupnya sendiri.
Jepang — bangsa yang dikagumi karena disiplin, etos kerja, kebersihan, dan kemajuan teknologinya — mencatat angka bunuh diri sekitar 15 hingga 20 per 100.000 penduduk, jauh di atas rata-rata global. Bahkan Jepang memiliki istilah khusus seperti karōshi (kematian karena kerja berlebihan) dan hikikomori (penarikan diri total dari kehidupan sosial). Istilah-istilah yang lahir dari penderitaan jiwa yang masif.
Rusia — negara dengan kekayaan sumber daya alam yang melimpah dan kekuatan militer kelas dunia — mencatat angka bunuh diri sekitar 20 hingga 25 per 100.000 penduduk, salah satu yang tertinggi di Eropa.
Apa makna semua angka ini?
Bahwa kemajuan dunia tidak otomatis menghadirkan ketenangan jiwa. Bahwa rumah yang besar tidak menjamin hati yang lapang. Bahwa rekening yang penuh tidak menjamin tidur yang nyenyak. Bahwa popularitas tidak menjamin bebas dari rasa sepi.
Manusia adalah makhluk berdimensi ganda — jasmani dan ruhani. Ketika satu dimensi diberi makan berlebihan sementara dimensi lainnya dibiarkan kelaparan, manusia akan terus merasa ada yang hilang. Betapa pun lengkap kelihatannya hidupnya dari luar.
Inilah momen paling rentan dalam kehidupan manusia: ketika ia merasa benar-benar sendirian menghadapi beban hidupnya. Tidak ada tempat mengadu. Tidak ada tempat berharap. Tidak ada tempat bersandar.
Pada titik inilah sebagian manusia kehilangan alasan untuk bertahan hidup. Bukan karena masalahnya benar-benar tidak ada jalan keluar, tetapi karena ia merasa tidak ada lagi yang bisa diandalkan.
Di sinilah Islam memberikan jawaban yang tidak akan pernah usang. Kekuatan terbesar manusia bukanlah uang, jabatan, kecerdasan, atau bahkan dukungan keluarga semata. Kekuatan terbesar manusia adalah hati yang bergantung kepada Allah.
Orang yang mengenal Allah tetap diuji. Ia tetap bisa sedih. Tetap bisa kehilangan. Tetap bisa terjatuh. Tetapi ia tidak mudah hancur. Karena ketika seluruh dunia berbalik meninggalkannya, ia masih bisa menengadahkan tangannya ke langit dan berkata:
“Aku masih punya Allah.”
Dan kalimat itu — sekuat apa pun ujian yang menerpa — sudah cukup untuk membuat seorang hamba mampu berdiri kembali esok pagi.
Di tengah dunia yang semakin pandai mencetak manusia produktif tetapi gagap mencetak manusia tenang, pondok pesantren memegang peran yang sangat strategis.
Pondok pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan. Pondok pesantren adalah bengkel hati. Tempat di mana ruh manusia dibentuk agar terbiasa selalu terhubung dengan Allah.
Lihatlah ritme keseharian seorang santri. Bangun sebelum subuh. Qiyamul lail di tengah keheningan malam. Shalat berjamaah lima waktu. Wirid dan doa. Membaca dan menghafal Al-Qur’an. Memperbanyak shalawat. Menjaga adab kepada guru dan teman. Hidup sederhana dalam keterbatasan. Disiplin terhadap waktu. Belajar ikhlas dalam tugas-tugas yang tampak kecil.
Mungkin di mata seorang santri yang masih muda, semua ini terasa hanya sebagai rutinitas. Bahkan kadang terasa berat dan membosankan. Namun sesungguhnya, di balik rutinitas itu pondok sedang menanam fondasi jiwa yang tidak akan goyah ketika sang santri kelak menghadapi dunia yang sesungguhnya.
Fondasi itu bernama: hati yang selalu bergantung kepada Allah.
Inilah bekal paling mahal — yang tidak bisa dibeli oleh kampus mana pun, tidak bisa diunduh dari internet, tidak bisa dititipkan kepada coach atau mentor mana pun di dunia.
Dunia hari ini tidak kekurangan orang pintar. Dunia tidak kekurangan teknologi. Dunia tidak kekurangan informasi. Dunia hari ini kekurangan manusia yang hatinya tenang.
Maka panggilan Rasulullah ﷺ tentang al-mufarridun sebenarnya adalah panggilan yang sangat kontemporer. Justru di abad ke-21 inilah hadits itu terasa paling relevan.
Untuk para santri — banggalah bahwa kalian sedang dididik menjadi al-mufarridun. Orang-orang yang lisannya basah dengan dzikir, yang hidupnya dekat dengan Allah, yang hatinya selalu memiliki tempat kembali.
Untuk para profesional, pengusaha, pelajar, dan siapa pun yang membaca tulisan ini — pintu untuk menjadi al-mufarridun tidak pernah tertutup.
Tidak perlu menjadi santri terlebih dahulu untuk mulai mengingat Allah lebih banyak. Tidak perlu menunggu pensiun untuk mulai memperbaiki hubungan dengan-Nya. Tidak perlu menunggu masalah datang untuk mulai berdzikir.
Mulailah hari ini. Mulailah dari subuh esok pagi. Mulailah dari tasbih sederhana setelah shalat. Mulailah dari satu ayat Al-Qur’an yang dibaca setiap hari. Mulailah dari hati yang sedikit lebih sering berkata, “Yā Allāh…”
Karena di tengah dunia yang semakin kehilangan arah, hati yang dekat dengan Allah adalah penyelamat terbesar bagi kehidupan manusia.
Dan boleh jadi, tanpa banyak yang menyadari, justru merekalah — para al-mufarridun yang tampak sederhana itu — yang sedang berlari paling depan menuju kemenangan yang sesungguhnya.
﴿ فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ ﴾
“Maka ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku akan mengingat kalian.”
(QS. Al-Baqarah: 152)
Wallāhu a’lam bi al-shawāb.
Disampaikan dalam tausiyah subuh santri di Masjid Jami Darunnajah
Ulujami, 15 Mei 2026
