santri belajar

Saat Mesin Bisa Segalanya,Justru di Situ Pondok Menemukan Dirinya

Refleksi atas Pendidikan Pesantren di Era Kecerdasan Buatan

Oleh: Hadiyanto Arief

Hari ini seorang santri cukup membuka layar, mengetik satu pertanyaan, dan dalam dua-tiga detik mesin menyodorkan jawaban yang rapi, runtut, bahkan indah. Karangan, makalah, terjemahan kitab, jawaban soal — semua bisa muncul jadi, sempurna, dalam sekejap. Ini bukan ramalan; ini hari ini. Survei mutakhir bahkan mencatat bahwa hampir 88% pelajar kini memakai AI untuk mengerjakan tugas mereka. Mesin sudah duduk di tengah ruang belajar kita, entah kita undang atau tidak.

Maka satu anggapan lama pun runtuh: “kalau tugasnya bagus, berarti anaknya paham.”

Sekarang, lembar jawaban sempurna di meja kita belum tentu lahir dari kepala santri. Produk akhir tak lagi bisa menjadi saksi yang jujur.

Tapi jangan buru-buru cemas. Justru di sinilah letak kabar baiknya.

Bayangkan begini. Dulu, untuk menilai apakah seorang santri pandai memasak, cukup kita cicipi masakannya. Sekarang ada “warung serba instan” — itulah AI — yang bisa menyajikan hidangan lezat dalam sekejap. Kalau kita masih hanya mencicipi masakan jadi, kita tertipu: kita tak tahu siapa yang sebenarnya memasak.

Lalu apa yang mesti dilakukan guru? Masuk ke dapur. Lihat santri memilih bumbu, mengaduk, mencicipi, memperbaiki rasa. Di dapur itulah ketahuan siapa yang sungguh-sungguh bisa memasak. Inilah yang dunia modern kini sebut process over product — menilai dapurnya, bukan sekadar piring hidangannya.

Dan ketika mesin sanggup memasak hampir semua “hidangan”, yang tersisa dan tetap berharga justru hal-hal yang tak bisa dipalsukan: cara berpikir, kejujuran, keberanian, adab, dan jiwa. AI bisa menyerahkan ikan dalam sekejap, tapi tak bisa menjadikan seseorang seorang pemancing.

Persis seperti ditegaskan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Halaqah Nasional Pimpinan Pesantren se-Indonesia pertengahan tahun ini: AI sangat hebat mentransfer pengetahuan, tetapi ia tak memiliki kemampuan menanamkan nilai-nilai kehidupan. Bahkan, justru di era kecerdasan buatan, pesantren diyakini akan menjadi sekolah masa depan yang paling dicari, karena memiliki benteng yang tak bisa direplikasi oleh teknologi secanggih apa pun.

Dan inilah yang ingin saya bisikkan kepada para asatidz: apa yang baru “ditemukan” dunia modern dengan istilah keren itu, sesungguhnya sudah lama menjadi nafas pondok kita — terutama dalam sistem KMI/TMI.

Pikirkanlah sejenak. Ketika seorang santri menghadapi imtihan syafahi, ia menatap mata penguji, ditanya lalu ditanya lagi: “kenapa begitu? coba jelaskan dengan kata-katamu sendiri.” Mesin tak bisa menggantikan momen itu; di sana yang sejati langsung tampak.

Ketika ia naik mimbar muhadhoroh, berpidato dalam tiga bahasa dengan lutut gemetar di pekan-pekan pertama, AI memang bisa menuliskan teks pidatonya — tapi ia tak bisa berdiri menggantikanmu, tak bisa menumbuhkan keberanian dan kefasihan yang hanya lahir dari latihan berulang-ulang.

Ketika ia mempertahankan gagasannya dalam munaqosyah, dicecar pertanyaan bertubi-tubi, di situlah pemahaman yang sesungguhnya teruji — sebab makalah bisa dibuatkan mesin, tetapi mempertahankannya di hadapan penguji, tidak.

Dan lihatlah fathul kutub — tradisi yang seolah memang dirancang untuk zaman ini. Santri diberi satu masalah, lalu harus menyelami sendiri kitab demi kitab, menelusuri, membanding-bandingkan, lalu menyimpulkan. AI sanggup memuntahkan jawaban dalam sedetik, tapi justru pencarian itulah seluruh tujuannya: yang dibentuk bukan jawabannya, melainkan malakah — kemampuan meneliti turats secara mandiri.

Dan di sinilah ajaran Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah terasa begitu mengena untuk zaman kita. Beliau menegaskan bahwa malakah tak pernah lahir secara instan, melainkan hanya tumbuh dari pengulangan perbuatan yang terus-menerus.

Menurut beliau, malakah tidak terbentuk kecuali dengan pengulangan perbuatan: sebuah perbuatan terjadi lebih dahulu lalu meninggalkan jejak sifat pada jiwa, kemudian berulang hingga menjadi keadaan (hal) yang belum mengakar, lalu pengulangan itu terus bertambah hingga akhirnya menjadi malakah — yakni sifat yang mengakar kukuh.

Beliau bahkan menggariskan satu pembedaan yang seakan ditulis untuk hari ini.

Menurut Ibnu Khaldun, kecakapan sejati dalam sebuah ilmu hanya diperoleh dengan terbentuknya malakah — dan malakah itu berbeda dari sekadar memahami dan menghafal satu masalah; sebab memahami dan menghafal satu persoalan dapat dimiliki bersama oleh orang alim maupun orang awam, sedangkan malakah hanyalah milik peneliti yang mendalam.

Maka jelaslah: mesin hari ini sanggup menyodorkan “pemahaman atas satu masalah” kepada siapa saja dalam sekejap — persis “pemahaman dan hafalan” yang menurut Ibnu Khaldun bahkan dimiliki orang awam. Tetapi malakah — sifat mengakar yang menjadi tanda penguasaan sejati — tetap tak bisa diunduh; ia hanya ditempa oleh perjalanan dan pengulangan.

Dan justru itulah yang dilatih oleh fathul kutub, setoran hafalan, dan amaliyah tadris — ketika santri akhir mengajar kelas sungguhan lalu dikritik habis-habisan, sebab pembentukan ada pada praktiknya, bukan pada catatannya. Bahkan disiplin dan pengasuhan dua puluh empat jam, panggung, dan kepanitiaan; semuanya menempa manusia, bukan sekadar mencetak angka di atas kertas — dan tak satu pun darinya bisa diunduh dari mana pun.

Kalaupun kita menengok ke tradisi klasik, talaqqi dan sanad keilmuan pun berbicara hal yang sama: ilmu kita tak pernah bisa diunduh, ia hanya berpindah lewat perjumpaan, dari dada ke dada, bertahun-tahun lamanya. Sebuah kitab bisa diterjemahkan mesin dalam sedetik, tetapi keberkahan duduk di kaki seorang guru tak punya jalan pintas.

Menariknya, kajian-kajian terbaru pun menuju arah yang sama.

Sebuah dokumen kajian dari Northeastern University menegaskan satu hal yang relevan benar dengan kita: ketika AI bisa menghasilkan produk akhir yang sempurna dalam sekejap, menilai hasil jadi saja tak lagi sahih — yang mesti dinilai adalah jejak prosesnya, sebab di situlah pembelajaran yang sesungguhnya menjadi tampak.

Mereka bahkan mencatat bukti yang menampar: kini penilai berpengalaman pun tak lagi mampu membedakan dengan andal mana karya buatan AI dan mana karya asli siswa. Dan “menilai proses” itu — bukankah persis imtihan syafahi dan fathul kutub yang sudah seabad kita amalkan?

Maka, sungguh, badai modern ini bukan ancaman bagi pondok — ia justru pembenaran. Dunia sedang berlari terengah-engah menuju tempat yang sejak dulu sudah didiami pesantren dengan tenang.

Lalu, Apa yang Sebaiknya Pesantren Lakukan?

Yang pertama dan paling utama: percayalah pada tradisi yang sudah terbukti. Jangan tergesa-gesa membuang imtihan syafahi, muhadhoroh, munaqosyah, fathul kutub, amaliyah tadris, dan pengasuhan dua puluh empat jam hanya demi terlihat modern.

Justru di hadapan AI, tradisi-tradisi itulah yang paling tahan banting, sebab ia menguji manusia, bukan kertas. Kita tidak perlu meniru semua yang baru; kita cukup mengenali bahwa yang lama dan sudah benar itu memang dirancang untuk membentuk jiwa. Pegang ia erat-erat.

Kedua: kuatkan sisi prosesnya. Biasakan menilai perjalanan, bukan sekadar hasil. Mintalah santri menjelaskan secara lisan apa yang ia tulis; hargai draf dan coretannya; tanyakan “dari mana kamu tahu ini?”; dan tempatkan kejujuran serta kesungguhan di atas nilai sempurna yang diragukan asal-usulnya. Perbanyak perjumpaan tatap muka, sebab di sanalah yang sejati tak bisa disembunyikan. Inilah cara kita memperkokoh apa yang sudah kita miliki, bukan menggantinya.

Ketiga: berjalan selaras dengan teknologi, bukan menentangnya. Kenalkan literasi AI kepada santri dan asatidz sejak dini. Jadikan AI sebagai mu‘allim kedua yang memperluas jangkauan keilmuan kita — membantu menerjemahkan kitab, mempercepat penelusuran, melayani pertanyaan-pertanyaan ringan.

Tetapkan aturan yang jelas: kapan AI boleh dipakai dan kapan tidak. Dan yang tak kalah penting, latih santri menimbang serta mengoreksi keluaran mesin — mengenali kesalahan dan “halusinasinya” — agar mereka menjadi tuan atas teknologi, bukan budaknya. Seperti kata Gus Ipang Wahid, kita tak akan kalah oleh AI; kita justru akan kalah oleh orang yang memahaminya.

Dan di tengah semua itu, posisi guru tidak tergeser — malah makin penting. Mesin boleh memindahkan pengetahuan, tetapi hanya guru yang bisa menatap mata santri, meneladankan akhlak, menyalakan hati, dan menemani jiwa yang sedang tumbuh. Itulah peran yang tak akan pernah bisa diambil alih oleh algoritma mana pun.

Di sinilah lingkaran itu menutup dengan indah.

Ketika produk bisa dipalsukan dalam sekejap, yang tinggal bernilai hanyalah perjalanan belajar dan pembentukan jiwa — dan itulah, sejak dulu, yang ingin dibentuk oleh pondok. Krisis paling modern justru menuntun kita pulang ke nasihat paling klasik sang kyai: ujian untuk belajar, bukan belajar untuk ujian.

Sebab masa depan bukan milik mereka yang paling cepat menghasilkan, melainkan mereka yang paling dalam dibentuk.

Daftar Pustaka

Gus Ipang Wahid. (2026). Pernyataan dalam forum Pendidikan Menengah Kader NU (PMKNU), Cirebon, Mei 2026. Republika Online.

Higher Education Policy Institute (HEPI). (2025). Survei penggunaan AI generatif di kalangan mahasiswa (hampir 88% mahasiswa menggunakan AI generatif untuk tugas akademik). Inggris.

Ibnu Khaldun, ‘Abd ar-Rahman. (ditulis ±1377 M). Muqaddimah, fasal tentang ilmu, pengajaran, dan teori al-malakah.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2025). Pemanfaatan Kecerdasan Buatan untuk Pendidikan Inklusif dan Berdaya Saing di Pesantren (opini). kemenag.go.id.

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2026). Sambutan Menteri Agama Nasaruddin Umar pada Halaqah Nasional V Pimpinan Pondok Pesantren se-Indonesia, Jakarta, Mei 2026.

Kofinas, A. K., Tsay, C. H., & Pike, D. (2025). The Impact of Generative AI on Academic Integrity of Authentic Assessments in Higher Education. British Journal of Educational Technology.

Northeastern University. (2025–2026).

Assessment in an AI-Ubiquitous World: Emerging Principles, Recent Research, and Examples. Center for Advancing Teaching and Learning Through Research

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *