santri angkut

Kurikulum Kehidupan

Pada beberapa malam ketika saya menjadi santri di Pondok Modern Darussalam Gontor, saya bertugas sebagai supir pondok. Mengantar tamu yang datang ke ndalem. Mengantar belanja keperluan dapur umum. Sesekali — dan inilah malam-malam yang paling membekas — mengantar kyai sendiri ke acara di luar pondok.

Pekerjaan itu mengajari saya hal-hal yang tidak pernah saya pelajari di kelas. Bagaimana kyai duduk di kursi mobil. Bagaimana beliau berbicara dengan tamu yang berbeda kelas sosial — dengan pejabat, dengan petani, dengan sesama kyai, dengan santri kecil yang menyalami beliau di sela perjalanan. Bagaimana beliau memilih kata ketika ditanya hal yang sulit. Kapan beliau diam, dan apa makna diam itu. Tidak ada satu kalimat pun di antaranya yang dijadikan materi pelajaran. Semuanya saya tangkap, bukan saya pelajari.

Saya tidak memahami arti pengalaman itu pada saat itu. Saya baru memahaminya sekarang, berpuluh tahun kemudian, setelah Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi memberi saya bahasa untuk menamai apa yang sudah saya alami. Yang terjadi di bangku belakang mobil pondok itu adalah satu mode dari spiral pengetahuan yang mereka sebut sosialisasi — konversi tacit dari satu pribadi ke pribadi lain tanpa melalui kata. Saya tidak diajari; saya menyaksikan. Dan apa yang saya saksikan, tertanam.

Tidak hanya menjadi supir. Sebelum dan sesudah masa itu, saya juga ketua rayon, pengurus Organisasi Pelajar Pondok Modern, dan beberapa amanah lain yang saya tidak akan satu per satu sebutkan agar tidak terdengar sebagai daftar prestasi. Yang penting bukan jabatannya, melainkan bahwa setiap peran adalah ruang pelajaran tersendiri yang tidak ditemukan di tempat lain.

Menjadi ketua rayon mengajari saya bagaimana mengurus orang yang seusia dengan saya, yang dengan jelas tidak ingin saya urus. Saya belajar bahwa kekuasaan formal tanpa keadilan dan kewibawaan hanya akan menghasilkan kepatuhan superfisial — dan kepatuhan superfisial di asrama santri tidak akan bertahan semalam. Saya juga belajar bahwa pengurus yang tidak ikut bangun sebelum subuh tidak akan didengar ketika menyuruh bangun teman-temannya. Inilah pelajaran tentang kepemimpinan yang tidak ada di buku ajar manapun, tetapi yang saya bawa dalam setiap rapat yang saya pimpin di Darunnajah hari ini.

OPPM mengajari saya hal lain lagi. Bagaimana sebuah institusi bekerja. Bagaimana keputusan dibuat dan ditolak. Bagaimana satu surat resmi yang ditulis dengan benar dapat menggerakkan ratusan orang, dan satu surat yang ditulis ceroboh dapat menyinggung seorang pengasuh selama berbulan-bulan. Saya belajar membaca politik kecil pondok — bukan dalam arti yang negatif, melainkan dalam arti memahami bahwa setiap institusi punya arsitektur kekuasaan, simpati, dan ketergantungan yang harus dihormati sebelum dapat digerakkan dengan ihtimam. Hari ini saya tahu bahwa apa yang saya pelajari di OPPM adalah eksternalisasi dan kombinasi sekaligus: tacit kyai dirumuskan oleh para pengurus santri menjadi tradisi organisasi yang dapat diwariskan, lalu disistemkan menjadi pola kerja yang berulang setiap tahun.

Ada satu hal yang saya ingin tekankan di sini karena sering disalahpahami: semua pengalaman di luar kelas itu tidak pernah menggantikan kewajiban belajar di kelas. Sebaliknya, kelas adalah syarat. Di Gontor, dan saya yakin di pesantren manapun yang sehat, santri yang nilainya jatuh tidak akan dipercayakan menjadi pengurus. Pengabdian adalah kehormatan bagi yang sudah membuktikan kesungguhan dalam ilmu — bukan jalur pintas bagi yang tidak mampu di kelas.

Ini bukan kebijakan administratif belaka. Ini adalah filosofi pendidikan yang sangat dalam. Pesantren sudah lama tahu — meskipun tidak menggunakan bahasa Nonaka untuk mengatakannya — bahwa empat mode pengetahuan saling membutuhkan dan tidak dapat saling menggantikan. Kelas memberi struktur eksplisit yang menjadi rangka. Pengalaman organisasi mengeksternalisasi tacit guru menjadi tradisi kepemimpinan yang dapat dilanjutkan. Pengabdian menginternalisasi nilai-nilai abstrak menjadi karakter konkret. Hidup berasrama menyosialisasikan akhlak melalui kedekatan jarak. Satu mode saja dilemahkan, spiralnya pincang. Santri yang pandai di kelas tetapi tidak pernah memegang amanah hanya akan memiliki pengetahuan yang dipersediakan, bukan yang terinternalisasi. Sebaliknya, santri yang aktif berorganisasi tetapi nilainya jatuh akan menjadi pemimpin tanpa kedalaman. Pesantren yang baik tidak mengorbankan satu pun di antara keempatnya.

Saya kini berdiri di sisi yang berbeda. Saat ini saya mengasuh pesantren tempat kakek saya pernah mewaqafkan tanahnya — di Darunnajah, tempat saya juga dilahirkan secara harfiah, di atas tanah waqaf yang sama yang dulu menjadi mula. Tugas saya kini adalah memastikan bahwa apa yang dulu saya alami sebagai santri Gontor — yang saya bawa pulang sebagai bekal hidup — juga dialami oleh santri-santri Darunnajah hari ini.

Karena itu, setiap kali saya melihat seorang santri yang diberi amanah menjadi mudabbir rayon, saya tidak melihatnya hanya sebagai pengurus. Saya melihatnya sebagai santri yang sedang menjalani salah satu mode spiral, tepat di titik di mana dulu saya juga berdiri. Setiap kali saya melihat santri yang menjadi supir pondok, mengantar tamu, atau bertugas di koperasi, saya tahu ia sedang berada di posisi tacit-transfer yang paling kaya — sebuah posisi yang tidak diketahui nilainya kecuali oleh yang pernah berada di sana. Setiap kali saya melihat panitia muhadarah yang menulis surat undangan ke ustadz senior, saya tahu ia sedang belajar bahasa institusional yang tidak diajarkan di kitab manapun.

Tugas pimpinan pesantren bukan hanya menyediakan kelas dan kitab — itu yang paling mudah, dan itu yang biasanya paling baik diselenggarakan oleh sekolah biasa. Tugas pimpinan pesantren adalah memastikan bahwa tiga mode lainnya juga tetap hidup, terlindungi dari logika efisiensi modern yang gemar menghapus apa pun yang tidak terukur. Saya menjaga agar rayon tetap dipimpin oleh santri, bukan oleh karyawan. Saya menjaga agar tugas pengabdian tetap dianggap kehormatan, bukan beban. Saya menjaga agar santri yang dipilih menjadi pengurus tetap harus melewati saringan akademik — karena syarat itu bukan formalitas administratif, melainkan penjaga keseimbangan spiral.

Dalam Unfolding the Hidden Curriculum of TMI yang saya tulis beberapa tahun lalu, saya merumuskan bahwa kurikulum tersembunyi pesantren bekerja dua puluh empat jam dan tidak pernah ditulis. Apa yang baru sekarang dapat saya jernihkan — setelah lebih banyak membaca dan lebih banyak melihat — adalah bahwa hidden curriculum itu bukan substitusi bagi kurikulum formal, melainkan komponen yang tidak bisa berdiri sendiri. Ia berfungsi karena ada kelas yang tetap berjalan. Kelas berfungsi karena ada asrama tempat pelajaran itu diuji. Asrama berfungsi karena ada amanah yang membuat santri belajar memimpin diri sebelum memimpin orang. Dan semua itu berfungsi karena ada keteladanan kyai dan ustadz yang menjadi rujukan tacit ketika semua kata sudah habis.

Empat mode itu adalah satu spiral. Pesantren sudah memutarnya selama berabad-abad sebelum Nonaka dan Takeuchi memberinya nama. Tugas kita — sebagai pimpinan, sebagai ustadz, sebagai Dewan Nazhir — adalah memastikan ia terus berputar di setiap kamar, di setiap kantor pengurus santri, di setiap perjalanan mobil pondok yang dibawa seorang santri yang belum tahu bahwa malam itu ia sedang menerima warisan yang akan dibawanya seumur hidup.

Pelajaran terbesar yang saya dapatkan dari Gontor tidak ada di kurikulum tertulis. Tetapi ia tidak akan pernah ada tanpa kurikulum tertulis. Kami menyebutnya Darsul Hayah. Ilmu kehidupan. Karena di pesantren bukan hanya mengejar ilmu akademis (darsul ilmi). Inilah paradoks tarbiyah pesantren yang ingin saya wariskan dalam keadaan utuh kepada generasi yang sedang saya layani sekarang

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *