Saat di pondok dulu, mendapatkan hak lisensi untuk mengendalikan dan mengendarai kendaraan itu sesuatu yang sangat diimpi2kan oleh setiap santri. Biasanya hak atas kendaraan melekat kepada tugas atau amanah yang disandang.
Gerobak sampah untuk piket kebersihan, gerobak kopi untuk piket malam, becak kesehatan untuk piket kesehatan, atau jika beruntung, mendapatkan hak jangka yg agak panjang atas sepeda onthel selama manjalani amanah mengurus bagian organisasi.
Ya, sepeda onthel adalah puncak kemuliaan seorang santri senior. Apalagi sepeda onthel lelaki yang ada palang besi ditengahnya dan butuh keahlian khusus untuk menaikinya.
Apa pasal? niscaya bertambah banyak hal karenanya. Terutama keanggunan dan wibawanya.
Bersarung, berjas, berkopiah hitam. Sejadah diselempangkan di bahu kanan. Ayunan pertama adalah kuncinya. Jika sampai nyangkut, tak hanya badan, wibawa pun terancam jatuh terpuruk. Butuh latihan berjam jam di malam dan tempat sunyi untuk melatih keahlian tersebut tanpa dilihat oleh santri junior.
Tapi jika ayunan pertama lancar, kayuhan selanjutnya akan jadi memori tak lekang dimakan zaman. Meluncur nikmat. Apalagi jika banyak santri junior memandang. Wibawa sampai pada puncaknya.
Terbayang kan? Itu baru sepeda loh.. apalagi yg lebih dari sepeda..
Saya sungguh termasuk yang beruntung tidak hanya dapat lisensi untuk mengendarai sepeda onthel yang tak bermesin itu. Mungkin hanya nol sekian persen santri yang beruntung seperti saya. Ditunjuk menjadi supir untuk kendaraan roda empat, mobil.
Berkah karena dipaksa orangtua untuk mampu mengendarai kendaraan roda empat dan punya SIM A pada usia belia.
Kemampuan itu pula yang mengantarkan saya mengenal kendaraan-kendaraan pondok seperti kijang keramat, colt bak material, bahkan kijang grand milik Kyai! Mobil yang pada era 90an dulu adalah sebuah prestige yang tak semua berani bermimpi tentangnya.
Bayangkan, yang lain hanya mampu mentok mengendarai roda dua bermesin sikil, saya diperbolehkan mengendarai kendaraan roda empat bermesin bensin buatan Jepang!
Kemampuan itulah yang bisa memberi kesempatan lebih untuk suatu hal yang sangat didambakan oleh setiap santri, bisa lebih sering keluar pondok! Mengantar belanja kebutuhan bagian, membeli obat-obatan bagian kesehatan, mengantar santri sakit gigi, mengantar santri diusir atau menjadi supir trayek musiman antar jemput santri setelah perpulangan.
Kemampuan itu pula yang mengantarkan saya bisa dikenal oleh Kyai dan guru-guru sepuh. Satu kesempatan yang tak bisa diulang. Tugas yang paling berkesan adalah saat mendapat tugas antar jemput Kyai Gontor, KH Shoiman Luqmanul Hakim.
Bisa mengenal langsung lebih dekat dengan kehidupan Kyai adalah sebuah kesempatan mewah nan istimewa bagi santri. Bisa semobil dan berbincang dengan Kyai layaknya siswa zaman now mendapatkan hadiah unlimited kuota gratis yang bisa dipakai mendownload ribuan video atau aplikasi.
Konsumsi atau lauk tambahan dari Bu Nyai karena menjalani tugas adalah bonus yang menjadi mimpi setiap santri meskipun hanya semangkok sayur tempe kuning campur tewel.
Ah, tak habis cerita bagaimana pengabdian kami para santri kepada Kyai, guru dan Pondok.
Tugas tugas sederhana dalam keseharian santri memang sebenarnya memiliki filosofi yang sangat dalam dibandingkan dari apa yang terlihat receh dipermukaan.
Tugas dari Kyai kepada santri itu tidak bisa disamakan dengan instruksi majikan kepada pembantu. Bukan perintah atasan kepada bawahan. Apalagi omelan seorang cukong kepada ajudan. Tidak bisa disamakan dengan segala macam hubungan yang bersifat transaksional.
Santri percaya bahwa hubungan antara kyai dan santri adalah hubungan yang sakral. Hubungan yang didasari bukan berdasarkan transaksi take and give, tapi didasari ketulusan dan keikhlasan didalam menjalankan pendidikan.
Keikhlasan itulah yang pada akhirnya akan mengantarkan kepada keberkahan. Keberkahan ilmu. Dan memang inilah salah satu kekhasan pesantren dibandingkan dari sekolah umum.
Al ilmu bit-ta’allum, wal barokah bil khidmah. Begitu kata-kata yang sering terdengar dari mulut kyai. Ilmu didapat dengan belajar. Berkah diraih dengan berkhidmah.
Dalam khazanah pesantren, santri memang disadarkan bahwa tujuan mereka tidaklah boleh sekedar mencari ilmu di pesantren. Apalagi sekedar nilai ujian atau kelas/ijazah. Santri dipacu untuk mencapai keberkahan dari ilmu yang mereka cari.
Dan keberkahan itu bisa didapat dengan cara berkhidmah. Mengabdi. Mengabdi kepada ilmu itu sendiri, dan mengabdi kepada ahlul ilmi, Kyai, guru atau pondok itu sendiri. Sebagai wasilah mengabdi untuk Allah SWT tentunya.
Maka, jarang sekali mendengar santri menolak tugas yang diberikan oleh Kyai. Justru tugas tugas itu adalah sebuah harapan yang ada didalam setiap benak santri. Apapun bentuknya.
Karena, tugas itulah yang dipercaya sebagai sebuah amanah suci yang bisa mengantarkan kepada keberkahan ilmu.
Alhamdulillah, kenyataannya, kebanyakan memang begitulah polanya. Santri yang mampu maksimal berperan di masyarakat adalah santri yang biasanya banyak mendapatkan tugas ketika mereka di pondok.
Musta’mal, mu’tarof, mu’tabar dan muhtarom. Begitulah tahapannya. Ditugaskan, dikenal, dianggap dan insya Allah dimuliakan.
Syukur hal itu terbukti, banyak santri yang mendapatkan amanah sebagai supir pondok dulu saat ini memiliki peran terpandang di masyarakat tempat mereka berjuang. Sebagian menjadi pengusaha, tokoh penggerak di masyarakat dan bahkan menjadi Mudir, pengasuh, kyai dari pesantren yang mereka asuh. Dan saya benar2 yakin bahwa ini adalah hasil dari keberkahan ilmu yang didapat di pondok dahulu.
From supir to mudir.
