50th ayah dedy

Lima Puluh Tahun: Hampir Sampai

Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertanya kepada seorang lelaki, “Berapa umurmu?” Lelaki itu menjawab, “Lima puluh tahun.” Fudhail berkata pelan: “Engkau telah lima puluh tahun berjalan menuju Tuhanmu — dan engkau sudah hampir sampai.”

Kalimat itu terasa seperti ditujukan kepada saya. Lima puluh tahun ternyata bukan sekadar angka, melainkan jarak yang sudah saya tempuh. Dan sebagai musafir yang hampir tiba, pertanyaan saya berubah: bukan lagi “ke mana saya pergi?” melainkan “apa yang sudah saya bawa?”

Ibnu al-Jauzi menyebut usia ini sebagai gerbang kuhūlah — masa ketika tenaga badan mulai berkurang, tetapi hikmah semestinya bertambah. Saya diingatkan bahwa ini musim panen: apa yang dulu saya tanam kini mulai berbuah, dan buah itu bukan untuk saya simpan sendiri, melainkan untuk dibagikan.

Menariknya, Plato sampai pada kesimpulan serupa dari jalan yang berbeda. Dalam karyanya Republik, ia menulis bahwa seseorang baru layak memimpin setelah berumur lima puluh — sebab baru pada usia itulah ilmu, pengalaman, dan kematangan jiwa bertemu. Yang bagi Fudhail “hampir sampai”, bagi Plato justru “baru mulai layak”.

Saya merasa keduanya benar, dan keduanya menegur saya dengan cara masing-masing. Lima puluh adalah usia ketika dua arah itu bertemu: cukup dekat kepada akhir untuk bersungguh-sungguh, cukup matang untuk mulai memberi — bukan karena saya sudah pantas, tetapi karena waktu tidak menunggu.

Maka sisa jalan ini, insya Allah, bukan untuk melambat, melainkan untuk meluruskan langkah. Sebab kata Fudhail pula: “siapa yang memperbaiki sisa umurnya, diampuni yang telah lalu.”

Lima puluh tahun saya gowes.. eh, berjalan. Hampir sampai. Semoga Allah menolong saya memperbaiki sisanya…

Terimakasih semua atas segala doa dari sahabat.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *