Efek melimpahnya informasi di layar kaca maupun dunia maya digital memang kadang menkhawatirkan. Tanpa saringan yang ketat, nilai-nilai yang ditampilkan media layar kaca atau internet bisa merusak cara pandang anak kita, bahkan seringkali kepada cara pandang diri kita sendiri.
Loyang kaleng sering kali dipoles menjadi emas. Formalin bisa terlihat seperti vitamin. Sekunder dikemas menjadi primer. Kalau tak hati hati, kita bisa iri pada kilaunya loyang.
Pernah suatu hari anakku dengan polosnya bercerita, tentang seorang youtubers muda yang dia tonton bersama kawannya. “Yah, si fulan itu kerena banget deh. Rumahnya gede banget, ada kolem renangnya. Mobilnya ada sembilan yah.. ferrari, lamborgini.. dst..” begitu ujarnya polos.
Silaunya kehidupan kadang memang tak tertahankan. Bahkan untuk ukuran orang dewasa.
Respon saya mendengar anak bicara seperti itu biasanya adalah dengan tidak menunjukkan raut muka kekaguman. Sebisanya kubuat datar tanpa ekspresi. Kupastikan anakku memperhatikan raut mukaku. Baru kulanjutkan dengan ucapan.
“Hmm.. lumayan.. selain kaya, dimana lagi hebatnya?”
Biasanya mereka sibuk berargumentasi bagaimana kerennya youtuber itu dengan menyebut hal-hal yang mereka anggap keren. Tentu saja dari kacamata anak kecil. Motornya, handphonenya, jalan jalan keluar negerinya.
Baru kuajukan sebuah pemikiran sederhana. Sebuah saringan agar mereka mampu membedakan “emas” yang sesungguhnya. “Maukah ayah kenalkan dengan anggota keluargamu sendiri yang jauh lebih kaya dan jauh lebih keren dari youtuber itu?”
Saling pandang dengan tatapan tak percaya biasanya menjadi respon awal mereka. Setelah mereka mengangguk baru kulanjutkan.
“Ada seseorang anggota keluargamu yang jauh lebih layak kau irikan daripada youtuber2 dan selebritis2 lain yang kau lihat dilayar kaca karena beberapa alasan.
Keluargamu itu mungkin tak punya mobil sekeren youtuber kebanggaanmu itu. Tapi itu bukan karena ia tak mampu, tetapi karena memang ia memilih tidak membelinya meskipun ia sebenarnya mampu membeli mobil yang jauh lebih mahal dengan jumlah yang lebih banyak. Ia pun sebenarnya mampu membangun rumah layaknya istana dengan kekayaan yang ia miliki, tapi ia memilih tidak melakukannya.
Sebaliknya, ia memilih jalan yang menurut orang umum aneh. Ia mendonasikan sebagaian besar hartanya termasuk hektaran lahan di ibukota Jakarta senilai ratusan milyar rupiah sebagai wakaf untuk membangun lembaga pendidikan pesantren sebagai istana bagi santri yang sebagian besarnya bisa membantu pendidikan untuk masyarakat yang kurang mampu.
Kau tau nak? Meskipun ia mampu menghadirkan banyak makanan mewah di lemari dapurnya, ayah tahu sekali keluargamu itu jarang sekali melakukannya. Ayahmu ini jarang sekali menerima tawaran makan dirumahnya, karena tau pasti hanya tersedia tahu dan kecap tauco buatan sendiri di meja makannya.
Ia adalah kakek buyutmu. KH Abdul Manaf Mukhayyar yang mewarisi jalan hidup Rasulillah Saw. Jalan hidup yang juga diambil oleh para ulama kyai dan para muhsinin yang menyumbangkan tak hanya harta mereka, tetapi juga tenaga, fikiran dan jiwa mereka untuk jalan kebaikan. Manusia manusia seperti beliaulah yang jauh lebih layak engkau irikan daripada selebritis selebritis itu.”
Dari lisan Rasulullah Saw sendiri tersampaikan, tidak dizinkan bersikap iri kecuali pada dua perkara; terhadap seseorang yang diberi ilmu oleh Allah ‘Azza wa Jalla, sehingga keadilan ditegakkan karena ilmunya, dan diajarkan ilmu itu kepada sesame manusia. Yang kedua, iri terhadap seseorang yang diberi harta oleh Allah, yang dengan hartanya itu ia pergunakan untuk jalan kebajikan. (HR Bukhari & Muslim).
Yaa rabb.. Berilah kejernihan hati kami dan anak anak kami, untuk melihat sesuatu yang benar itu adalah benar, dan kebatilan itu sebagai sebuah kebatilan. Dan semoga kita mampu meniru langkah perjalanan hidup mereka yang Engkau beri petunjuk…
