david cristian

Hidup tanpa Ijazah

Seni Membakar Kapal Sendiri

Tahun 711 Masehi. Di pantai selatan Spanyol, tujuh ribu pasukan muslim baru saja turun dari kapal. Di hadapan mereka: daratan asing, Andalusia, dengan pasukan Raja Roderick yang jumlahnya berlipat-lipat. Di belakang mereka: laut Mediterania yang luas, dan kapal-kapal yang siap membawa mereka pulang kapan saja nyali mulai menciut.

Lalu sang panglima, Thariq bin Ziyad, melakukan sesuatu yang oleh ilmu manajemen modern mungkin disebut gila: ia memerintahkan kapal-kapal itu dibakar.

Asap membubung. Kayu-kayu berderak dilalap api. Ribuan prajurit menatap satu-satunya jalan pulang mereka lenyap menjadi abu di ufuk. Dan di tengah kegentaran itu, Thariq berdiri dan berpidato dengan kalimat yang diabadikan sejarah:

البحر أمامكم، والعدو وراءكم، فأين المفر؟

Laut di depan kalian. Musuh di belakang kalian. Ke mana lagi kalian hendak lari?

Tak ada opsi mundur. Tak ada rencana cadangan. Yang tersisa hanya satu pilihan: menang, atau tidak sama sekali. Dan sejarah mencatat, pasukan kecil yang “tak punya jalan pulang” itu menaklukkan Andalusia — lalu menyalakan peradaban Eropa di sana selama hampir delapan abad.

Gunung tempat mereka mendarat sampai hari ini menyandang nama sang panglima: Jabal Thariq. Gibraltar…

Saya teringat kisah itu pada suatu sore di pondok, waktu itu msh mengasuh di Darunnajah 8 Cidokom Gunung Sindur, sekitar tahun 2017, ketika kedatangan seorang anak muda yang — tanpa ia sadari — sedang mempraktikkan strategi Thariq bin Ziyad dalam versi paling personal.

Ia bukan santri. Bahkan bukan muslim. Tapi idealisme yang ia bawa, persis idealisme yang sehari-hari diajarkan pondok ini.

Namanya David Cristian, anak muda belia keturunan Tionghoa, founder Evoware — produsen gelas yang bisa dimakan, berbahan rumput laut. Wajahnya sering muncul di televisi karena konsep bisnisnya yang unik. Tapi bukan itu yang membuat saya terkesima.

Di zaman ketika anak-anak muda berlomba memajang gelar di bio media sosial, David justru sengaja memilih DO saat SMA, dan membuang jauh-jauh ijazah college yang ia tempuh di Kanada.

Saya penasaran. “Apa nggak diomelin orang tua?”

Jawabannya membuat saya terdiam, lalu tersenyum lebar:

“Saya sudah mandiri sejak umur 19 tahun. Dan saya sengaja tidak menuntaskan pendidikan — biar saya tak punya opsi lain selain menjadi pengusaha.”

Biar tak punya opsi lain!

Subhanallah. Anak muda ini membakar kapalnya sendiri. Ijazah — kapal penyelamat yang bisa membawanya “pulang” ke zona aman menjadi pegawai — sengaja ia lenyapkan. Laut di depannya, kegagalan mengintai di belakangnya, fa-aynal-mafarr? Tak ada tempat lari. Maka ia maju. Dan menang.

Terakhir saya cek, perusahaan dan gerakannya terus exist hingga hari ini. Bahkan mendapat penghargaan dari Forbes under 30 pd 2020 lalu.

https://rethink-plastic.com/home/about-us

Belakangan saya merenung: jangan-jangan mentalitas seperti ini memang mengalir dalam tradisi komunitasnya. Nenek moyang masyarakat Tionghoa di Nusantara adalah para perantau yang dulu menyeberangi lautan ribuan kilometer — meninggalkan kampung halaman, seringkali tanpa bekal, tanpa koneksi, dan tanpa jalan pulang.

Sejarah, dengan caranya sendiri, telah “membakar kapal-kapal” mereka. Maka tak ada pilihan lain kecuali bertahan hidup dengan berdagang, berhemat, dan bekerja keras dari nol.

Dan nilai itu rupanya tidak berhenti di satu generasi. Ia diwariskan di meja makan keluarga: anak-anak sejak kecil terbiasa membantu di toko, diajari menghitung untung-rugi, ditanamkan bahwa hidup harus mandiri dan tak boleh berpangku pada siapa pun — apalagi pada selembar ijazah. Bukan soal ras, tapi soal kultur yang menempa nyali. Tak heran banyak dari mereka yang menonjol dalam dunia usaha. Mereka mewarisi mentalitas perantau: mentalitas orang yang kapalnya sudah terbakar.

Justru di sinilah ironinya. Mentalitas itu — al-i’timād ‘alan-nafs, kemandirian, keberanian menutup jalan mundur — adalah nilai yang setiap hari diajarkan di pondok-pondok kita. Tertulis di dinding kelas, dihafal dalam mahfudzot, dipidatokan di muhadharah. Tapi anak muda Tionghoa non-muslim inilah yang sore itu datang memberi contoh hidupnya. Ia seolah menjadi cermin bagi kita: nilai-nilai itu jangan berhenti sebagai hafalan.

___

Dan tahukah Anda? Penggalan pidato Thariq bin Ziyad itu — al-bahru amāmakum, wal-‘aduwwu warā’akum, fa-aynal-mafarr — bukan sekadar catatan kaki dalam buku sejarah. Ia adalah salah satu materi pelajaran Mahfudzhot yang pasti wajib dihafal oleh setiap santri di pondok-pondok modern. Diucapkan berulang-ulang di kelas, disetorkan di depan ustadz, terpatri di dada sejak usia belasan.

Para kyai pendiri pondok rupanya paham betul: kalimat itu bukan untuk sekadar dihafal, melainkan untuk dihidupi. Ia sengaja ditanamkan agar kelak, ketika santri berdiri di persimpangan hidupnya sendiri — laut ketidakpastian di depan, ketakutan mengejar dari belakang — jiwanya sudah otomatis menjawab: tak ada jalan mundur, maka majulah.

Ia berpasangan indah dengan mahfudzot lain yang juga dihafal sejak kelas satu:

الاعتماد على النفس أساس النجاح

— Bersandar pada diri sendiri adalah pangkal keberhasilan.

Dulu mungkin santri menghafalnya sekadar untuk lulus setoran. Tapi dua mahfudzot itu sesungguhnya adalah “pembakaran kapal” dalam bentuk kalimat. Ia melatih jiwa untuk tidak menggantungkan nasib pada apa pun di luar dirinya — bukan pada koneksi, bukan pada warisan, dan bukan pula pada selembar kertas bernama ijazah.

Kyai kami selalu mengingatkan: jangan sampai hidup hanya berorientasi menjadi pegawai, menjadi buruh, atau sekadar menjadi manusia “siap pakai” bagi kepentingan industri. Tujuan pendidikan pondok bukan mencetak pelamar kerja, melainkan mencetak manusia yang bermanfaat — bagi dirinya, dan bagi masyarakat di sekelilingnya.

___

Dan lihatlah negeri ini hari ini…

Lebih dari satu juta sarjana menganggur — angka tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, dari total tujuh jutaan penganggur di republik ini. Ribuan di antaranya bahkan sudah masuk kategori putus asa mencari kerja. Setiap tahun kampus-kampus mewisuda jutaan lulusan, sementara lowongan yang tersedia tak sebanding. Ijazah yang dulu dianggap tiket emas, kini bertumpuk di laci, menunggu panggilan interview yang tak kunjung datang.

Rendra sudah meramalkannya puluhan tahun lalu, dalam “Sajak Seonggok Jagung”. Ia melukiskan seorang pemuda tamatan sekolah yang duduk memandangi seonggok jagung di kamarnya — dan tak mampu berbuat apa-apa. Yang berkelebat di kepalanya bukan jagung itu, melainkan angan-angan kehidupan kota: gedung, majalah, dunia gemerlap yang bukan miliknya.

Sementara di tempat lain, seorang perempuan desa yang tak pernah mengenyam bangku sekolah memandang jagung yang sama — dan melihat rezeki: ia tahu persis harus mengolahnya menjadi apa.

Ironis. Yang bersekolah justru lumpuh di depan kenyataan; yang tak bersekolah justru berdaya.

Pemuda itu, kata Rendra, hanya bisa menunggu: menunggu ijazah, menunggu lowongan, menunggu belas kasihan dunia — dan tanpa semua itu ia tercerabut dari akarnya sendiri, melayang tak tentu arah bagai layang-layang putus talinya. Anak-anak desa berangkat ke kota mengejar gelar, lalu pulang dalam keadaan linglung: berdiri di depan seonggok kenyataan di kampung halamannya dan tak tahu harus berbuat apa.

Di ujung sajaknya, Rendra melontarkan gugatan yang menampar dunia pendidikan sampai hari ini: apa sesungguhnya guna pendidikan, bila ia hanya membuat seseorang menjadi asing di tengah persoalan hidupnya sendiri — terpisah dari kenyataannya, takjub pada dunia yang tak ia miliki, dan berakhir sebagai satu nama lagi dalam antrean panjang pencari kerja?

Ijazahnya ada. Gelarnya panjang. Tapi tangannya tak bisa mencangkul, otaknya tak terlatih membaca peluang, dan nyalinya tak pernah diasah untuk memulai sesuatu dari nol. Ia terdidik untuk menunggu dipakai — bukan untuk memberi manfaat.

Inilah tragedi pendidikan yang berorientasi pada selembar kertas.

___

Maka sore itu, kedatangan David saya manfaatkan betul menjadi contoh hidup di depan para santri. Bahwa hidup bisa dijalani dengan jauh lebih indah kalau paradigmanya dibalik: dari “apa yang bisa saya dapatkan” menjadi “apa yang bisa saya berikan”. Ia menyebut apa yang ia kerjakan dengan istilah social business — berbisnis, tapi ruhnya adalah kontribusi: menyelamatkan bumi dari sampah plastik, sekaligus memberdayakan petani rumput laut.

Jangan terlalu bergantung pada selembar ijazah. Jangan mengemis pekerjaan kepada orang lain, sementara Allah menghamparkan rezeki di sembilan dari sepuluh pintu perniagaan.

Ijazah boleh saja dimiliki — ia bukan barang haram. Tapi jangan pernah ia dijadikan kapal pelarian.

Sesekali, dalam hidup, kita perlu meniru Thariq bin Ziyad: bakar kapal-kapal itu. Tutup opsi mundur. Biarkan laut menghadang di depan dan kenyataan mengejar di belakang, lalu tanyakan pada diri sendiri: Fa-aynal-mafarr? — Ke mana lagi hendak lari?

Tidak ke mana-mana. Karena orang yang tak punya jalan pulang, akan menemukan seribu jalan untuk maju.

Semoga pondok ini terus melahirkan santripreneur — anak-anak muda yang tak menunggu lowongan, tapi menciptakannya; yang tak mengandalkan selembar kertas, tapi mengandalkan Allah dan kesungguhan dirinya; yang hadir di tengah masyarakat bukan untuk meminta, melainkan untuk memberi.

Man jadda wajada. Siapa bersungguh-sungguh, ia akan menang — bahkan tanpa ijazah sekalipun.

___

Ulujami, 11/07/2026

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *