Tiga tahun saya menghabiskan masa kuliah di Inggris — di Sunderland, lalu di Bristol. Dua kota yang berbeda wajah: Bristol yang hangat dengan jembatan gantung Clifton dan kafe-kafe tepi sungainya, Sunderland yang lebih sunyi di utara, dekat laut yang anginnya tak pernah ramah. Tapi ada satu pemandangan yang sama di keduanya, yang baru belakangan saya sadari maknanya.
Orang-orang tua yang berjalan sendirian.
Di halte bus, di supermarket, di taman kota — mereka ada di mana-mana. Nenek-nenek yang mendorong troli belanja untuk satu orang. Kakek-kakek yang duduk di bangku taman berjam-jam, ditemani koran dan burung merpati. Saya menyaksikan sendiri fenomena yang oleh para demografer disebut ageing population — masyarakat yang menua, dan menua dalam kesendirian.
Awalnya saya pikir itu sekadar pemandangan biasa negara empat musim. Sampai suatu siang, John — salah satu teman kuliah saya — mengundang saya dan beberapa teman kuliah lain makan siang di rumahnya.
Makan Siang yang Tidak Saya Lupakan
Rumah John rapi, hangat, khas rumah Inggris dengan perapian kecil dan jendela yang menghadap kebun belakang. Di sana saya bertemu partner hidupnya — mereka sudah bersama sepuluh tahun. Sepuluh tahun, tanpa menikah, dan tanpa rencana punya anak.
Saya bertanya dengan hati-hati, sekadar ingin memahami. Jawaban mereka jujur dan tanpa beban: mereka memang tidak berencana punya anak. Pertimbangannya beberapa, tapi yang paling utama adalah tantangan finansial. Membesarkan anak, kata mereka, menuntut komitmen waktu dan tenaga yang luar biasa — dan menurut kalkulasi mereka, semua pengorbanan itu tidak sebanding dengan apa yang akan mereka dapatkan.
Not worth it. Kira-kira begitu kesimpulannya.
Saya mengangguk sopan, menghabiskan makan siang dengan percakapan yang tetap hangat. Tapi dalam perjalanan pulang, ada sesuatu yang mengganjal di dada. Bukan karena saya menghakimi mereka — mereka orang baik, ramah, dan tulus. Yang mengganjal adalah kalimat itu: anak dihitung sebagai investasi yang tidak sebanding. Anak masuk ke dalam neraca untung-rugi, dan hasilnya: rugi.
Ketika Kalkulasi Itu Sampai di Ujung Usia
Bertahun-tahun kemudian, saya menemukan data yang seolah menjadi kelanjutan dari percakapan di meja makan itu.
Laporan Pew Research Center (2020) mencatat bahwa 27% orang berusia 60 tahun ke atas di Amerika hidup sendirian — satu dari empat lansia menghabiskan hari-harinya tanpa anak, tanpa pasangan, tanpa siapa pun. Rata-rata global hanya 16%. Di negara-negara seperti Afghanistan, Mali, dan Aljazair, angkanya bahkan di bawah 5%.
Eropa tidak lebih baik. Latvia mencatat 49% perempuan usia 65 tahun ke atas hidup sendiri. Jerman, Slovenia, Finlandia, dan Ceko berkisar di angka 44–45%. Hampir separuh nenek-nenek di negara maju menghabiskan usia senja tanpa siapa-siapa di rumah.
Dan kesepian itu bukan sekadar sedih. Laporan medis menyebut kesepian kronis meningkatkan risiko kematian setara dengan merokok 15 batang sehari. Ia menurunkan imun, memicu gangguan tidur, menaikkan tekanan darah, memperparah penyakit kronis. Di Jepang, Korea, dan banyak kota besar Barat, ada fenomena yang lebih memilukan: jenazah lansia ditemukan setelah berminggu-minggu — bukan karena ada yang mencari, tapi karena tetangga terganggu oleh bau.
Mereka mati dalam diam. Tak ada yang kehilangan.
Saya jadi membayangkan John dan partnernya. Kalkulasi finansial mereka mungkin benar di atas kertas: tanpa anak, tabungan lebih tebal, karier lebih leluasa, hari tua lebih terjamin — secara materi. Tapi data-data di atas seperti berbisik: terjamin oleh siapa? Ditemani oleh siapa?
Yang Diajarkan Islam, yang Baru Saya Pahami Setelah Jauh dari Rumah
Justru di negeri orang, jauh dari kampung halaman, saya semakin memahami betapa berharganya apa yang diajarkan Islam tentang keluarga.
Islam mengajarkan birrul walidayn — berbakti kepada kedua orang tua — bukan sebagai beban budaya, tapi sebagai ibadah yang kedudukannya disandingkan langsung setelah tauhid. Allah berfirman:
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya (orang tuamu) dengan penuh kasih sayang…” (QS. Al-Isra: 24)
Bukan di panti. Tapi di rumah. Bukan dirawat orang asing yang dibayar per jam. Tapi oleh anak yang dulu digendongnya.
Dan tentang anak, Islam memberi cara pandang yang berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan kalkulasi meja makan di Bristol itu. Anak bukan beban finansial yang harus dihitung untung-ruginya. Anak adalah titipan, amanah, dan — ini yang paling indah — tabungan investasi akhirat. Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa ketika manusia wafat, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, dan salah satunya: anak saleh yang mendoakannya.
Bayangkan dua neraca yang berbeda. Neraca pertama menghitung biaya sekolah, popok, waktu yang tersita, karier yang melambat — lalu menyimpulkan: tidak sebanding. Neraca kedua menghitung doa yang terus mengalir bahkan setelah jasad terbaring di liang lahat — dan menyimpulkan: tidak ada investasi yang lebih menguntungkan dari ini.
Yang satu berhenti di usia pensiun. Yang satu menembus akhirat.
Kaya Fasilitas, Miskin Relasi
Saya tidak sedang mengatakan Barat seluruhnya buruk dan kita seluruhnya baik. Tiga tahun di Inggris mengajarkan saya banyak hal yang patut ditiru: ketertiban, etos kerja, penghargaan pada ilmu. Islam pun tidak membenci modernitas.
Tapi Islam menjaga satu hal yang sering dihancurkan oleh modernitas: makna keluarga.
Negara-negara yang secara fasilitas miskin — Mali, Afghanistan, Aljazair dan tentu saja negeri tercinta kita ini- nyaris tidak mengenal fenomena lansia mati sendirian di apartemen. Karena di negeri2 tsb keluarga masih menjadi sistem hidup: anak tinggal bersama orang tua, cucu dibesarkan kakek-nenek, yang tua dirawat yang muda. Mereka mungkin miskin fasilitas, tapi kaya relasi.
Sementara di negara-negara yang paling maju, banyak orang tua tinggal di rumah besar yang lengkap segalanya — kecuali satu: tidak ada anak yang datang, tidak ada cucu yang memeluk. Mereka tidak miskin secara materi. Tapi miskin secara relasi. Dan yang kedua ini, jauh lebih menyakitkan.
Pulang
Setiap kali mengingat makan siang di rumah John itu, saya tidak lagi merasa canggung. Saya justru bersyukur. Percakapan satu jam di meja makan itu mengajarkan saya sesuatu yang tidak saya dapatkan di ruang kuliah selama tiga tahun:
Bahwa manusia tidak diciptakan untuk hidup sendiri.
Kita butuh rumah, bukan sekadar properti. Kita butuh cinta, bukan sekadar fasilitas. Kita butuh menua dalam pelukan anak-anak yang mendoakan, bukan ditemani perawat sewaan.
Karena sebesar-besarnya rumah, tak ada gunanya jika kita tidak pulang ke siapa-siapa. Dan sebesar-besarnya kemajuan, tak ada artinya jika manusia mati dalam kesepian.
Ulujami 4/07/26
